Tak Mampu Tekuk Myanmar Jadi Anti Klimaks Timnas U-19

 

timnas u-19

Jakarta – Ada apa dengan Timnas U-19? Ya, barangkali ini jadi pertanyaan seluruh rakyat Indonesia ketika tak mampu memenangi duel dalam dua pertemuan melawan Myanmar U-19. Tentu saja, hasil negatif ini seakan jadi anti klimaks atas performa gemilang Tim Garuda Jaya dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Animo masyarakat sepak bola Indonesia kembali bergairah kala menyaksikan daya juang pasukan Indra Sjafri di ajang Piala AFF 2013 lalu. Menembus partai puncak usai mengandaskan musuh bebuyutan seperti Malaysia dan Thailand di Grup B, Garuda Muda sukses merengkuh gelar usai memenangi duel atas Vietnam dalam drama adu penalti yang berakhir dengan skor 7-6. Pencapaian ini serasa menjadi pelepas dahaga akan minimnya prestasi yang ditorehkan timnas senior.

Popularitas Evan Dimas dan kawan-kawan semakin meroket saat berhasil melaju ke putaran final Piala Asia Myanmar 9 hingga 23 Oktober 2014. Terlebih lagi, kesuksesan Indonesia menjadi juara Grup G di babak kualifikasi dengan menekuk juara bertahan Korea Selatan kian membuat publik tercengang. Dari hasil drawing yang dilaksanakan (24/4) lalu di Myanmar, Indonesia tergabung ke dalam Grup B bersama Uzbekistan, Australia dan Uni Emirat Arab. Pada laga pertama Indonesia akan melawan Uzbekistan pada 9 Oktober.

Berbicara mengenai performa selepas babak kualifikasi Piala Asia 2014, dewi fortuna seakan senantiasa menyertai perjalanan Evan Dimas dan kolega dalam laga eksebisi di Tur Nusantara yang digelar sejak 3 Februari hingga 21 Maret 2014. Tim besutan Indra Sjafri mencatat delapan menangg dan empat imbang.

Kekuatan Young Garudas semakin menakutkan ketika melakoni Tur Timur Tengah bulan lalu. Sempat kalah 1-2 dari Oman U-19 pada 9 April, Indonesia sukses membalas dengan skor sama dua hari kemudian. Perjalanan ciamik Glorious Garudas berlanjut saat membekuk Uni Emirat Arab di dua pertemuan dengan skor 4-1 dan 2-1. Di hari terakhir, mengandalkan sebagian besar pemain lapis dua, Indonesia hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan klub lokal UEA, Al Shabab U-19.

Namun, kini segala kegemilangan seakan hancur berkeping karena tak mampu menaklukkan Myanmar dalam dua pertemuan di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Senin kemarin (6/5), kedua tim bermain imbang 1-1. Di tempat sama, armada Indra Sjafri dipaksa menyerah 1-2, Rabu (8/5) malam WIB.

Dari dua pertarungan tersebut, terlihat jelas faktor teknis dan non teknis sangat berperan dalam permainan timnas. Kesalahan mendasar seperti kesalahan passing kerap terjadi. Bukan hanya itu, secara psikologis timnas seperti tak siap atas provokasi yang dilakukan oleh tim lawan. Itu yang menyebabkan, Hansamu Pranata mendapat kartu merah di pertemuan pertama dan Ikhsan juga harus diusir wasit di pertandingan kedua.

Secara keseluruhan, penerapan taktik satu-dua umpan pendek Indra Sjafri sepertinya sudah mulai terbaca oleh tim lawan. Mulai dari mematikan pergerakan Evan Dimas hingga memutus aliran bola yang menuju Ilham Udin dan Maldini Pali di sisi sayap jadi pilihan utama pelatih Myanmar, Gerd Friedrich.

Masih ada waktu sekitar lima bulan lagi bagi Indra Sjafri untuk membenahi hal ini. Apa yang harus dilakukan jika Evan Dimas mendapat pengawalan ketat, apa yang harus dilakukan apabila penguasaan bola kalah oleh permaian kolektivitas lawan.  Paling penting tentu saja mencari cara bagaimana mengendalikan emosi pemain bila mendapat provokasi lawan. Selanjutnya, timnas U-19 akan bertanding kontra Liverpool Academy dan Manchester City Academy pada 20 hingga Mei nanti.

Advertisements